Pandangan Yahudi tentang Yesus
Kebanyakan orang Yahudi yang mengaku sebagai penganut Yudaisme tidak menerima Yesus sebagai Mesias. Namun ada sejumlah orang Yahudi yang menerima dan mereka disebut "Messianic Jews" (orang Yahudi Mesianik).
Perlu diingat bahwa Yesus Kristus lahir dan hidup sebagai orang Yahudi selama di dunia. Demikian pula murid-murid-Nya yang dipilih-Nya dan ditinggalkan-Nya untuk meneruskan pemberitaan Injil, yaitu Keduabelas rasul, semuanya orang Yahudi asli. Demikian pula rasul Paulus, penulis sebagian besar kitab-kitab Perjanjian Baru adalah seorang Yahudi yang dibesarkan dan dididik dalam aliran Yudaisme yang sangat konservatif.
Yudaisme umumnya memandang Yesus sebagai salah satu dari sekian banyak mesias palsu yang muncul dalam sejarah.[1] Yesus dipandang sebagai yang paling berpengaruh, dan akibatnya paling menimbulkan kerusakan, di antara semua mesias palsu.[2] Namun, karena kebanyakan orang Yahudi percaya bahwa Mesias belum datang dan zaman Mesianik belum tiba, maka penolakan Yesus secara keseluruhan baik sebagai Mesias maupun sebagai ilah bukanlah masalah sentral dalam Yudasime. Inti Yudaisme adalah Taurat, semua Mitzvot atau perintah, Tanakh, dan monoteisme etika seperti Shema — semuanya lebih kuno daripada Yesus.
Yudasime tidak pernah menerima klaim penggenapan apapun yang diberikan oleh orang Kristen kepada Yesus. Yudaisme juga melarang orang menyembah seseorang dalam bentuk penyembahan berhala, karena kepercayaan utama dalam Yudaisme adalah satu Allah yang mutlak Esa.[3]
Kepercayaan akan keilahian Yesus dianggap tidak kompatibel dengan Yudaisme, misalnya dari kutipan-kutipan berikut :
• "Poinnya adalah: seluruh Kristologi Gereja - seluruh doktrin kompleks tentang Anak Allah yang mati disalibkan untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa dan kematian - tidak kompatiblel dengan Yudaisme, dan merupakan diskontinuitas dengan Hebraisme yang mendahuluinya." [4]
• "Selain dari kepercayaan bahwa Yesus adalah Mesias, Kekristenan telah mengubah banyak konsep paling fundamental dari Yudaisme."[5]
• "...doktrin Kristus dulu dan sekarang tetap asing bagi pemikiran agamawi Yahudi."[6]
• "Bagi seorang Yahudi, bentuk shituf apapun dianggap penyembahan berhala dalam arti yang paling penuh. Tidak ada jalan bagi seorang Yahudi untuk menerima Yesus sebagai suatu ilahi, perantara atau Juruselamat (Mesias), atau bahkan sebagai nabi, tanpa mengkhianati Yudaisme."[7]
• "Jika engkau percaya Yesus adalah Mesias, mati untuk dosa-dosa orang lain, putra pilihan Allah, atau dogma lain dalam kepercayaan Kristen, engkau bukan orang Yahudi. Engkau adalah orang Kristen. Titik." [8]
• "Selama dua ribu tahun, orang Yahudi menolak klaim bahwa Yesus menggenapi nubuatan mesianik dalam Alkitab Ibrani, maupun klaim dogmatik tentang dia yang dibuat oleh bapa-bapa gereja - bahwa ia dilahirkan oleh seorang perawan, putra Allah, bagian dari suatu Trinitas ilahi, dan dibangkitkan dari kematian. ... Selama dua ribu tahun, harapan sentral Kekristenan adalah untuk menjadi objek yang diinginkan oleh orang Yahudi, di mana perpindahan kepercayaan mereka mendemonstrasikan penerimaan bahwa Yesus telah menggenapi nubuatan Alkitab mereka."[9]
• "Tidak ada orang Yahudi yang menerima Yesus sebagai Mesias. Jika seseorang membuat suatu komitmen iman, mereka menjadi Kristen. Tidak mungkin seseorang menjadi Kristen dan Yahudi bersamaan." [10]
Eskatologi Yahudi percaya bahwa kedatangan Mesias akan dihubungkan dengan runtunan peristiwa tertentu yang belum terjadi, termasuk kembalinya orang Yahudi ke tanah air mereka dan pembangunan Bait Suci, suatu era Mesianik yang penuh kedamaian[11] dan pengertian di mana selama itu "pengetahuan akan Allah" memenuhi bumi,[12] dan karena orang Yahudi percaya bahwa tidak ada di antara peristiwa ini terjadi dalam kehidupan Yesus (atau setelahnya, kecuali kepulangan orang "And it is tradition: On the eve of Passover they hung Jeshu [the Nazarene]. And the crier went forth before him forty days (saying), [Jeshu the Nazarene] goeth forth to be stoned, because he hath practiced magic and deceived and led Israel astray. Anyone who knoweth aught in his favor, let him come and declare concerning him. And they found naught in his favor. And they hung him on the eve of the Passover. Ulla said, 'Would it be supposed that [Jeshu the Nazarene] a revolutionary, had aught in his favor?' He was a deceiver and the Merciful (i.e. God) hath said (Deut. xiii 8), ‘Thou shalt not spare, neither shalt thou conceal him.’ But it was different with [Jeshu the Nazarene] for he was near the kingdom.'" (Sanhedrin 43a) Would you believe that any defense would have been so zealously sought for him? He was a deceiver, and the All-merciful says: "You shall not spare him, neither shall you conceal him." It was different with Jesus, for he was near to the kingship. (McDowell & Wilson, p. 65)Yahudi ke tanah Israel), maka Yesus bukan Mesias.
Teks otoritatif Yudaisme yang menyebutkan Yesus
Talmud
Sejumlah karya sastra rabbinik klasik Yahudi ditemukan memuat rujukan kepada Yesus, termasuk beberapa naskah Talmud Babilonia yang tidak disensor (disunting kira-kira sebelum tahun 600 M) dan sastra midrash klasik yang ditulis antara tahun 250 dan 700 M. Terdapat berbagai pandangan luas berapa referensi yang sesungguhnya merujuk kepada Yesus. Karena umumnya ditulis setelah Skisma antara Kekristenan dan Yudaisme, maka tidak heran bahwa rujukan-rujukan itu pada dasarnya bersifat negatif, bahkan cenderung melecehkan figur Yesus maupun perbuatan dan ajaran-ajarannya, bahkan termasuk juga ibunya dan murid-muridnya.[13] Otoritas Kristen di Eropa umumnya tidak tahu mengenai kemungkinan adanya rujukan mengenai Yesus dalam Talmud sampai tahun 1236, ketika seorang konvert dari Yudaisme, Nicholas Donin, memaparkan 35 tuduhan formal terhadap Talmud di hadapan Paus Gregorius IX, dan tuduhan ini diperhadapkan kepada rabbi Yehiel dari Paris untuk mengajukan pembelaan pada Disputation of Paris tahun 1240.[14] Pembelaan utama Yehiel adalah "Yeshu" yang disebut-sebut dalam literatur rabbinik adalah seorang murid dari Joshua ben Perachiah, dan jangan dirancukan dengan Yesus (Vikkuah Rabbenu Yehiel mi-Paris). Dalam Disputation of Barcelona (1263) yang merupakan kelanjutannya Nahmanides mengemukakan poin yang sama.[15] Rabbi Jacob ben Meir (Rabbeinu Tam) (12th century),[16] Jehiel Heilprin (17th century) dan Jacob Emden (18th century) mendukung pandangan ini. Namun, tidak semua Rabbi menerima pendapat tersebut. Hal ini tidak menghentikan upaya gereja Katolik Roma untuk menekan orang Yahudi agar menghapuskan catatan negatif mengenai Yesus dalam literatur mereka. McDowell dan Wilson menulis:
"... sehubungan dengan adanya penganiayaan, komunitas Yahudi menerapkan sensor terhadap diri sendiri untuk membuang rujukan-rujukan mengenai Yesus dalam tulisan-tulisan mereka supaya tidak lagi menjadi sasaran serangan.
Morris Goldstein, bekas Profesor "Old and New Testament Literature" pada Pacific School of Religion, menceritakan: Maka, pada tahun 1631 "Jewish Assembly of Elders" di Polandia menyatakan: ‘Kami menginstruksikan kalian di bawah ancaman larangan besar untuk tidak menerbitkan dalam edisi baru Mishnah atau Gemara apapun yang merujuk kepada Yesus orang Nazaret... Kalau kalian tidak dengan cermat mematuhi surat ini, melainkan melakukan yang berlawanan dan terus menerbitkan buku-buku kita dengan cara yang sama seperti sebelumnya, kalian dapat menimpakan kepada kami dan kalian sendiri penderitaan yang lebih besar dari waktu-waktu silam.’
Mula-mula, bagian yang dihapus dalam cetakan Talmud ditandai dengan lingkaran kecil atau spasi kosong, tetapi kemudian inipun dilarang oleh sensor. Akibat dari sensor berlipat dua ini maka volume-volume literatur Rabbinik biasa hanya memuat sisa-sisa yang tidak jelas dari informasi yang seharusnya berkaitan dengan Yesus ..."[17]
Dr. Robert Morey menulis: "Untunglah, salinan-salinan teks sebelum tahun 1631 yang tidak disensor masih tersimpan di Oxford University dan beberapa perpustakaan Eropa lainnya. jadi pernyataan-pernyataan mengenai Yesus tidak pernah benar-benar 'hilang'. Naskah-naskah itu diterbitkan terpisah dalam sejumlah edisi dan dipelajari oleh para pakar Yahudi secara privat. Tidak ada orang yang membantah fakta-fakta itu lagi ... Meskipun Talmud Babilonia edisi Soncino termasuk teks yang sudah disensor, tetapi para penyuntingnya biasanya menyisipkan bacaan aslinya pada catatan kaki. Kami telah mengembalikan pernyataan-pernyataan mengenai Yesus ke tempat asalnya pada teks yang bersangkutan dan menandai dengan [ ]."[18]
Berikut adalah rangkuman bagian-bagian Talmud yang mendukung fakta-fakta mengenai Yesus:
• Yesus dilahirkan dalam situasi yang tidak lazim, mendorong beberapa rabbi menyebutnya sebagai "ben Pandira" dan "seorang anak haram dari wanita pezinah."
• Maria, ibu Yesus, adalah putri Heli atau Eli.
• Yesus disalibkan (atau "digantung", istilah Yahudi untuk "penyaliban") pada hari menjelang Paskah.[19]
• Yesus membuat dirinya sendiri hidup dengan nama Allah.
• Yesus adalah putra seorang perempuan. (bandingkan Galatia 4:4)
• Yesus mengklaim sebagai Allah, Anak Allah dan anak manusia.
• Yesus naik ke langit dan mengklaim akan datang kembali.
• Yesus dekat dengan kerajaan dan dengan jabatan raja.
• Yesus mempunyai sedikitnya lima murid.
• Yesus melakukan mujizat, yaitu "mempraktikkan ilmu sihir"
• Nama Yesus mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan Ajaran Yesus mengesankan bagi seorang rabbi.[17]
Maimonides
Maimonides (Rabbi Moshe ben Maimon) meratapi kesakitan yang dirasakan oleh orang Yahudi sebagai akibat kepercayaan baru yang mencoba menggantikan ajaran Yudaisme, secara spesifik Kekristenan dan Islam. Pemikirannya tercatat dalam "Mishneh Torah" dan "Epistle to Yemen" ("Surat kepada orang [Yahudi] Yaman", ditulis tahun 1172). Mengenai Yesus, ia menulis:
...Juga Yesus orang Nazaret yang membayangkan bahwa ia adalah Mesias dan dibunuh oleh pengadilan, sudah dinubuatkan oleh Daniel. Demikianlah dikatakan, “Dan anggota kelompok pelanggar hukum dari bangsamu akan terbawa untuk membuat suatu penglihatan terlaksana. Dan mereka tersandung.” (Daniel 11:14). Karena, apakah ada batu sandungan yang lebih besar dari orang ini? Sedemikian semua nabi berbicara berkata mengenai Mesias untuk menebus Israel, dan menyelamatkan mereka, dan mengumpulkan orang-orang terbuang, dan menguatkan hukum-hukum mereka. Tapi orang ini menyebabkan (bangsa-bangsa) menghancurkan Israel dengan pedang, dan menceraiberaikan sisanya, dan membuat mereka terhina, dan menukar Taurat, dan membuat mayoritas dunia melakukan kesalahan untuk melayani suatu sosok ilahi di samping Allah.[20]
Pandangan alternatif
Di luar teks-teks otoritatif tersebut di atas yang umum di kalangan Yudaisme, minoritas kecil para Rabbi menganut pandangan yang lebih positif tentang Yesus, dengan argumen bahwa ia sendiri tidak meninggalkan Yudaisme dan/atau bahwa ia melakukan hal yang baik bagi orang bukan-Yahudi. Di antaranya adalah Jacob Emden, yang menulis:
"Orang Nazaret ini menampilkan suatu kebaikan ganda di dunia. Di satu sisi, ia menguatkan Taurat Musa secara mulia! sebagaimana disebutkan sebelumnya! dan tidak satupun Sage (orang bijak) kita berbicara lebih tegas mengenai ketidak berubahan Taurat. Dan di sisi lain, ia melakukan banyak hal yang baik terhadap orang asing."[21][22]
Moses Mendelssohn (beserta beberapa pemikir agama lain dari gerakan Haskalah), menggambarkan Yesus sebagai "orang Yahudi Rabbinik teladan... sebagai Rabbi yang setia", dan ia bukanlah orang pertama yang berpikir demikian; Elijah Benamozegh melihat kemiripan perumpamaan dan perintah etika dalam Injil dan Talmud, menyimpulkan bahwa "ketika Yesus mengatakan hal ini, tidak mungkin ia meninggalkan Yudaisme" dan "Yesus adalah seorang Yahudi yang baik, yang tidak bermimpi untuk mendirikan gereja tandingan", sementara Levinsohn menegaskan bahwa "Yesus adalah seorang Yahudi yang taat hukum".[23][24]
Komentar
Posting Komentar