Didatangi Malaikat Maut, Nabi Adam Lupa Umurnya Telah Habis Jurnalis - 
Usai Allah SWT menciptakan AS, ia lalu mengusap punggungnya. Maka berjatuhanlah darinya seluruh jiwa yang akan diciptakan Allah dari keturunannya. Selanjutnya, Allah menyodorkan jiwa-jiwa itu kepada . Ia pun menanyakan siapa mereka sebenarnya?  Dijawab oleh Allah, mereka ialah keturunan Adam. Namun pandangan Nabi Adam langsung tertuju kepada salah seorang di antara mereka. Sang Nabi kagum akan cahaya satu sosok yang memancarkan cahaya di antara kedua matanya. Demikian sebagaimana yang dikisahkan dalam sebuah hadits sahih riawayat Abu Hurairah berikut ini, فَرَأَى رَجُلًا مِنْهُمْ فَأَعْجَبَهُ وَبِيصُ مَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ مَنْ هَذَا؟ فَقَالَ: هَذَا رَجُلٌ مِنْ آخِرِ الأُمَمِ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ يُقَالُ لَهُ دَاوُدُ فَقَالَ: رَبِّ كَمْ جَعَلْتَ عُمْرَهُ؟ قَالَ: سِتِّينَ سَنَةً، قَالَ: أَيْ رَبِّ، زِدْهُ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعِينَ سَنَةً Artinya: Begitu melihat seseorang dari mereka, Adam kagum akan kilauan cahaya yang ada di antara kedua matanya. Ia lantas bertanya, “Wahai Tuhan, siapakah dia?” Allah menjawab, “Ini seorang umat akhir zaman dari keturunanmu. Namanya Dawud.” Adam kembali bertanya, “Wahai Tuhan, berapa engkau jadikan umurnya?” Allah menjawab, “Enam puluh tahun.” Adam lantas memohon, “Tambahkanlah padanya 40 tahun lagi dari umurku.” فَلَمَّا قُضِيَ عُمْرُ آدَمَ جَاءَهُ مَلَكُ المَوْتِ، فَقَالَ: أَوَلَمْ يَبْقَ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعُونَ سَنَةً؟ قَالَ: أَوَلَمْ تُعْطِهَا ابْنَكَ دَاوُدَ قَالَ: فَجَحَدَ آدَمُ فَجَحَدَتْ ذُرِّيَّتُهُ، وَنُسِّيَ آدَمُ فَنُسِّيَتْ ذُرِّيَّتُهُ، وَخَطِئَ آدَمُ فَخَطِئَتْ ذُرِّيَّتُهُ Sewaktu umur Adam habis, malaikat maut datang padanya. Namun, Adam protes, “Apakah tidak ada yang tersisa 40 tahun lagi dari umurku?” Dijawab oleh malaikat maut, “Bukanlah sudah engkau berikan dulu kepada keturunanmu?” Namun, Adam mengingkarinya. Tak heran jika keturunannya kemudian turut ingkar seperti kakek moyang mereka. Adam lupa akan hal itu, maka keturunannya pun lupa. Adam pernah bersalah, maka keturunannya pun turut bersalah. (HR. Al-Tirmidzi). Seperti dilansir NU Online, berdasar hadits di atas dapat dijelaskan, Nabi Adam telah melihat keturunan yang akan diciptakan Allah setelah dirinya. Allah menjadikan cahaya di antara kedua mata setiap keturunannya, di samping terlihat pula berapa umur masing-masing dari mereka. Namun, Adam melihat seorang yang memiliki cahaya yang cukup terang. Ia lantas menanyakannya kepada Allah. Dan Dia mengabarkan bahwa itu salah satu keturunannya. Ia akan dijadikan umat akhir zaman, namanya Dawud, dan umurnya 60 tahun.
Rupanya, Adam melihat umur Nabi Dawud AS terlalu sedikit. Oleh karena itu, ia meminta agar Allah menambahi umur satu cucunya itu dari umurnya, sehingga umur Dawud yang semula 60 tahun menjadi 100 tahun. Diberitahukan pula dalam hadits itu bahwa umur Nabi Adam adalah 1000 tahun. Tepat setelah umurnya berlalu 1000 tahun kurang 40 tahun, datang malaikat maut kepadanya hendak mencabut nyawanya. Namun, Nabi Adam malah memprotesnya. Ia menolak sang malaikat mencabut nyawanya karena merasa belum sampai ajalnya.
Seluruh manusia berasal dari keluarga Nabi Adam AS dan istrinya, Hawa. Allah SWT menciptakan manusia pertama itu dan kemudian menempatkannya di dalam surga, sampai akhirnya menurunkannya ke Bumi. Baca Juga: Nasihat Ustaz Abdul Somad untuk Pasangan Ingin Keturunan Nasihat Ulama Nasihat Ustaz Abdul Somad untuk Penunda Shalat Ayah umat manusia itu pernah berbuat khilaf dan lupa. Selain terkait mendekati pohon terlarang, ada perkara lainnya yang lantas menunjukkan dua perangai umum itu bagi setiap manusia. Allah SWT telah menetapkan jatah usia Nabi Adam AS yakni seribu tahun. Namun, ada suatu kejadian yang menyebabkan jatah usia itu dikurangi sehingga menjadi 940 tahun. Semuanya atas izin Allah Ta'ala. Di detik-detik menjelang ajal, Nabi Adam rupanya lupa akan soal pengurangan jatah usia itu, sehingga sempat mendebat sang malaikat pencabut nyawa. Kisah ini disampaikan dalam hadits Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan at-Tirmidzi dari Abu Hurairah. Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW bersabda kepada para sahabat beliau, "Setelah Allah menciptakan Adam, Allah mengusap punggungnya, lalu dari punggungnya jatuhlah setiap nyawa yang Allah ciptakan hingga Hari Kiamat." Adapun dalam riwayat dari Ibnu Abbas, dikatakan, "Sungguh Allah telah memukul bahu Adam yang sebelah kanan, maka keluarlah seluruh jiwa yang berwarna putih jernih yang tercipta sebagai penghuni surga. Allah berfirman, 'Mereka adalah penghuni surga'. Setelah itu, Allah memukul bahu Adam yang sebelah kiri, maka keluarlah seluruh jiwa berwarna hitam yang tercipta sebagai penghuni neraka. Allah berfirman, 'Mereka adalah penghuni neraka.' Selanjutnya, Allah mengambil janji dari semua keturunanAdam supaya mereka beriman kepada-Nya, mengenal-Nya, dan membenarkan-Nya serta (menaati) perintah-Nya. Allah juga mengambil kesaksian atas diri mereka sendiri, maka mereka pun menyatakan beriman, membenarkan, mengenal, dan mengakui-Nya." Riwayat itu dikutip Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya, Syifa'ul 'Alil fi Masa'ilil Qadha wal Qadar wal Hikmah wat Ta'lil. Dalam hadits riwayat at-Tirmidzi dari Abu Hurairah, dijelaskan bahwa "Kemudian Allah berfirman kepadanya (Adam) dengan dua tangan menggenggam, 'Pilih mana yang kau mau di antara keduanya.' Adam menjawab, 'Aku memilih yang kanan, wahai Rabbku.' Kedua tangan Rabbku kanan dan penuh berkah. Kemudian Allah membentangkannya, ternyata padanya ada Adam dan keturunannya. Adam bertanya, 'Wahai Rabb, siapa mereka?' Allah menjawab, 'Mereka adalah keturunanmu.' Dan ternyata, setiap orang sudah tertulis usianya di antara kedua matanya. Dan di antara mereka, ada salah seorang yang paling bersinar wajahnya. Adam bertanya, 'Wahai Rabb, siapa dia?' Allah menjawab, 'Dia anakmu, Daud. Aku tetapkan usianya 40 tahun.' Adam pun meminta, 'Wahai Rabb, tambahkanlah usianya.' Allah menjawab, 'Aku sudah tetapkan untuknya.' Adam meminta lagi, 'Wahai Rabb, aku berikan 60 tahun dari (jatah) usiaku untuk dia.' Allah berfirman, 'Baik.'
Ada hikmah yang dapat dipetik dari kisah tentang Nabi Adam AS. -- Bagian tulisan ini meneruskan kisah sebelumnya. Masih menurut sabda Nabi SAW. Sesudah Nabi Adam AS meminta kepada Allah SWT agar mengurangi jatah usianya 60 tahun. Jatah tersebut diberikan kepada salah seorang keturunannya yang mulia, Nabi Daud AS. Baca Juga: Nasihat Ustaz Abdul Somad untuk Pasangan Ingin Keturunan Nasihat Ulama Nasihat Ustaz Abdul Somad untuk Penunda Shalat Dalam hadits riwayat at-Tirmidzi dari Abu Hurairah itu, dikisahkan sebagai berikut. "Adam kemudian ditempatkan di dalam surga, sebagaimana Allah berkehendak. Setelah itu (memakan buah dari pohon terlarang), (Adam dan Hawa) diturunkan dari surga. Adam menghitung usianya. Lalu (setelah sekian tahun hidup di dunia), malaikat maut datang kepadanya. Adam pun berkata kepadanya, 'Kau terburu-buru. Usiaku ditetapkan seribu tahun.' Malaikat maut menjawab, 'Betul, tapi kau sudah memberikan (jatah usia) 60 tahun untuk anakmu, Daud.' Adam ingkar, keturunannya pun ingkar. Adam dibuat lupa, keturunannya pun dibuat lupa.' Sejak saat itu, diperintahkan (oleh Allah SWT) untuk mencatat (setiap perkara) dan (mendatangkan) saksi." Berita Terkait Ketika Nabi Adam Membantah Malaikat Maut (1) Mulianya Akhlak dan Sikap Sahabat Rasulullah Kisah Abu Bakar dan Pengemis Yahudi Begitulah. Sifat pelupa dan cenderung membantah ternyata sudah menjadi tabiat manusia sejak Nabi Adam AS. Untuk menghindari perbantahan tentang apa-apa yang telah diucapkan atau diperbuat manusia, maka Allah memerintahkan pencatatan dan persaksian. Demikian syarah hadits tersebut oleh Umar Sulaiman al-Asyqar dalam kitabnya, Shahihul Qashash an-Nabawy.
sumber : Islam Digest Republika
Usai Allah SWT menciptakan AS, ia lalu mengusap punggungnya. Maka berjatuhanlah darinya seluruh jiwa yang akan diciptakan Allah dari keturunannya. Selanjutnya, Allah menyodorkan jiwa-jiwa itu kepada . Ia pun menanyakan siapa mereka sebenarnya?  Dijawab oleh Allah, mereka ialah keturunan Adam. Namun pandangan Nabi Adam langsung tertuju kepada salah seorang di antara mereka. Sang Nabi kagum akan cahaya satu sosok yang memancarkan cahaya di antara kedua matanya. Demikian sebagaimana yang dikisahkan dalam sebuah hadits sahih riawayat Abu Hurairah berikut ini, فَرَأَى رَجُلًا مِنْهُمْ فَأَعْجَبَهُ وَبِيصُ مَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ مَنْ هَذَا؟ فَقَالَ: هَذَا رَجُلٌ مِنْ آخِرِ الأُمَمِ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ يُقَالُ لَهُ دَاوُدُ فَقَالَ: رَبِّ كَمْ جَعَلْتَ عُمْرَهُ؟ قَالَ: سِتِّينَ سَنَةً، قَالَ: أَيْ رَبِّ، زِدْهُ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعِينَ سَنَةً Artinya: Begitu melihat seseorang dari mereka, Adam kagum akan kilauan cahaya yang ada di antara kedua matanya. Ia lantas bertanya, “Wahai Tuhan, siapakah dia?” Allah menjawab, “Ini seorang umat akhir zaman dari keturunanmu. Namanya Dawud.” Adam kembali bertanya, “Wahai Tuhan, berapa engkau jadikan umurnya?” Allah menjawab, “Enam puluh tahun.” Adam lantas memohon, “Tambahkanlah padanya 40 tahun lagi dari umurku.” فَلَمَّا قُضِيَ عُمْرُ آدَمَ جَاءَهُ مَلَكُ المَوْتِ، فَقَالَ: أَوَلَمْ يَبْقَ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعُونَ سَنَةً؟ قَالَ: أَوَلَمْ تُعْطِهَا ابْنَكَ دَاوُدَ قَالَ: فَجَحَدَ آدَمُ فَجَحَدَتْ ذُرِّيَّتُهُ، وَنُسِّيَ آدَمُ فَنُسِّيَتْ ذُرِّيَّتُهُ، وَخَطِئَ آدَمُ فَخَطِئَتْ ذُرِّيَّتُهُ Sewaktu umur Adam habis, malaikat maut datang padanya. Namun, Adam protes, “Apakah tidak ada yang tersisa 40 tahun lagi dari umurku?” Dijawab oleh malaikat maut, “Bukanlah sudah engkau berikan dulu kepada keturunanmu?” Namun, Adam mengingkarinya. Tak heran jika keturunannya kemudian turut ingkar seperti kakek moyang mereka. Adam lupa akan hal itu, maka keturunannya pun lupa. Adam pernah bersalah, maka keturunannya pun turut bersalah. (HR. Al-Tirmidzi). Seperti dilansir NU Online, berdasar hadits di atas dapat dijelaskan, Nabi Adam telah melihat keturunan yang akan diciptakan Allah setelah dirinya. Allah menjadikan cahaya di antara kedua mata setiap keturunannya, di samping terlihat pula berapa umur masing-masing dari mereka. Namun, Adam melihat seorang yang memiliki cahaya yang cukup terang. Ia lantas menanyakannya kepada Allah. Dan Dia mengabarkan bahwa itu salah satu keturunannya. Ia akan dijadikan umat akhir zaman, namanya Dawud, dan umurnya 60 tahun.
Rupanya, Adam melihat umur Nabi Dawud AS terlalu sedikit. Oleh karena itu, ia meminta agar Allah menambahi umur satu cucunya itu dari umurnya, sehingga umur Dawud yang semula 60 tahun menjadi 100 tahun. Diberitahukan pula dalam hadits itu bahwa umur Nabi Adam adalah 1000 tahun. Tepat setelah umurnya berlalu 1000 tahun kurang 40 tahun, datang malaikat maut kepadanya hendak mencabut nyawanya. Namun, Nabi Adam malah memprotesnya. Ia menolak sang malaikat mencabut nyawanya karena merasa belum sampai ajalnya.
Rupanya Nabi Adam selalu menyadari dan menghitung tahun-tahun umur yang dilewatinya. Meski sudah diingatkan bahwa sebagian usianya sudah dihibahkan kepada Dawud namun Adam tetap ingkar atau menolak. Pengingkaran itu tak lain karena sifat lupa.
Sifat itulah yang kemudian diwariskan Nabi Adam kepada anak-cucunya. Mereka ingkar dan lupa sebagaimana kakek moyangnya. Maka dari itu, Allah memerintah para malaikat untuk mencatat hujjah dan kesaksian Adam guna menghadapi penolakan orang-orang yang ingkar dan lupa.
Seluruh manusia berasal dari keluarga Nabi Adam AS dan istrinya, Hawa. Allah SWT menciptakan manusia pertama itu dan kemudian menempatkannya di dalam surga, sampai akhirnya menurunkannya ke Bumi. Baca Juga: Nasihat Ustaz Abdul Somad untuk Pasangan Ingin Keturunan Nasihat Ulama Nasihat Ustaz Abdul Somad untuk Penunda Shalat Ayah umat manusia itu pernah berbuat khilaf dan lupa. Selain terkait mendekati pohon terlarang, ada perkara lainnya yang lantas menunjukkan dua perangai umum itu bagi setiap manusia. Allah SWT telah menetapkan jatah usia Nabi Adam AS yakni seribu tahun. Namun, ada suatu kejadian yang menyebabkan jatah usia itu dikurangi sehingga menjadi 940 tahun. Semuanya atas izin Allah Ta'ala. Di detik-detik menjelang ajal, Nabi Adam rupanya lupa akan soal pengurangan jatah usia itu, sehingga sempat mendebat sang malaikat pencabut nyawa. Kisah ini disampaikan dalam hadits Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan at-Tirmidzi dari Abu Hurairah. Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW bersabda kepada para sahabat beliau, "Setelah Allah menciptakan Adam, Allah mengusap punggungnya, lalu dari punggungnya jatuhlah setiap nyawa yang Allah ciptakan hingga Hari Kiamat." Adapun dalam riwayat dari Ibnu Abbas, dikatakan, "Sungguh Allah telah memukul bahu Adam yang sebelah kanan, maka keluarlah seluruh jiwa yang berwarna putih jernih yang tercipta sebagai penghuni surga. Allah berfirman, 'Mereka adalah penghuni surga'. Setelah itu, Allah memukul bahu Adam yang sebelah kiri, maka keluarlah seluruh jiwa berwarna hitam yang tercipta sebagai penghuni neraka. Allah berfirman, 'Mereka adalah penghuni neraka.' Selanjutnya, Allah mengambil janji dari semua keturunanAdam supaya mereka beriman kepada-Nya, mengenal-Nya, dan membenarkan-Nya serta (menaati) perintah-Nya. Allah juga mengambil kesaksian atas diri mereka sendiri, maka mereka pun menyatakan beriman, membenarkan, mengenal, dan mengakui-Nya." Riwayat itu dikutip Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya, Syifa'ul 'Alil fi Masa'ilil Qadha wal Qadar wal Hikmah wat Ta'lil. Dalam hadits riwayat at-Tirmidzi dari Abu Hurairah, dijelaskan bahwa "Kemudian Allah berfirman kepadanya (Adam) dengan dua tangan menggenggam, 'Pilih mana yang kau mau di antara keduanya.' Adam menjawab, 'Aku memilih yang kanan, wahai Rabbku.' Kedua tangan Rabbku kanan dan penuh berkah. Kemudian Allah membentangkannya, ternyata padanya ada Adam dan keturunannya. Adam bertanya, 'Wahai Rabb, siapa mereka?' Allah menjawab, 'Mereka adalah keturunanmu.' Dan ternyata, setiap orang sudah tertulis usianya di antara kedua matanya. Dan di antara mereka, ada salah seorang yang paling bersinar wajahnya. Adam bertanya, 'Wahai Rabb, siapa dia?' Allah menjawab, 'Dia anakmu, Daud. Aku tetapkan usianya 40 tahun.' Adam pun meminta, 'Wahai Rabb, tambahkanlah usianya.' Allah menjawab, 'Aku sudah tetapkan untuknya.' Adam meminta lagi, 'Wahai Rabb, aku berikan 60 tahun dari (jatah) usiaku untuk dia.' Allah berfirman, 'Baik.'
Ada hikmah yang dapat dipetik dari kisah tentang Nabi Adam AS. -- Bagian tulisan ini meneruskan kisah sebelumnya. Masih menurut sabda Nabi SAW. Sesudah Nabi Adam AS meminta kepada Allah SWT agar mengurangi jatah usianya 60 tahun. Jatah tersebut diberikan kepada salah seorang keturunannya yang mulia, Nabi Daud AS. Baca Juga: Nasihat Ustaz Abdul Somad untuk Pasangan Ingin Keturunan Nasihat Ulama Nasihat Ustaz Abdul Somad untuk Penunda Shalat Dalam hadits riwayat at-Tirmidzi dari Abu Hurairah itu, dikisahkan sebagai berikut. "Adam kemudian ditempatkan di dalam surga, sebagaimana Allah berkehendak. Setelah itu (memakan buah dari pohon terlarang), (Adam dan Hawa) diturunkan dari surga. Adam menghitung usianya. Lalu (setelah sekian tahun hidup di dunia), malaikat maut datang kepadanya. Adam pun berkata kepadanya, 'Kau terburu-buru. Usiaku ditetapkan seribu tahun.' Malaikat maut menjawab, 'Betul, tapi kau sudah memberikan (jatah usia) 60 tahun untuk anakmu, Daud.' Adam ingkar, keturunannya pun ingkar. Adam dibuat lupa, keturunannya pun dibuat lupa.' Sejak saat itu, diperintahkan (oleh Allah SWT) untuk mencatat (setiap perkara) dan (mendatangkan) saksi." Berita Terkait Ketika Nabi Adam Membantah Malaikat Maut (1) Mulianya Akhlak dan Sikap Sahabat Rasulullah Kisah Abu Bakar dan Pengemis Yahudi Begitulah. Sifat pelupa dan cenderung membantah ternyata sudah menjadi tabiat manusia sejak Nabi Adam AS. Untuk menghindari perbantahan tentang apa-apa yang telah diucapkan atau diperbuat manusia, maka Allah memerintahkan pencatatan dan persaksian. Demikian syarah hadits tersebut oleh Umar Sulaiman al-Asyqar dalam kitabnya, Shahihul Qashash an-Nabawy.
sumber : Islam Digest Republika
Komentar
Posting Komentar